La Couleur De La Vie

                                       "C’est un peu de mon histoire"

In Memorial
Chat Room
My Music


Leave Your Message
Your Time Now
Vote For Me
Is My blog's content and design appealing to you to visit back again?

100% Yes!
50% Yes
Less than 50% yes
Not at all
No Comment

View Results

Weather @Depok
The WeatherPixie
Prayer Time
Visitor Counter
Live Page Popularity


Google
 
Republika Online - Jangan Pelihara Rasa Benci
Saturday, October 31, 2009
Sumber : Republika Online - Jangan Pelihara Rasa Benci


Jangan Pelihara Rasa BenciCORBIS/ILUSTRASI
Suatu hari, ketika Nabi saw sedang berkumpul dengan para sahabat di dekat ka'bah, seorang lelaki asing lewat di hadapan mereka. Setelah lelaki itu berlalu, Nabi berujar kepada para sahabat, ''Dialah ahli surga.'' Dan hal itu dikatakannya sampai tiga kali.

Atas pernyataan Nabi tersebut, timbul penasaran di kalangan para sahabat, terutama Abdullah bin Umar yang memang dikenal sangat kritis. ''Ya, Rasulullah,'' tanya Abdullah, ''Mengapa engkau katakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalnya sebagai sahabatmu? Sedang terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu?'' Lalu sebagai seorang uswah, Nabi memberikan jawaban diplomatis yang sangat bijak. ''Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan engkau tanyakan sendiri kepadanya.'' Karena rasa penasarannya sangat tinggi, suatu hari Abdullah bin Umar menyengajakan diri untuk berkunjung ke rumah orang asing itu.

''Ya, akhie,'' kata Abdullah, ''kemarin sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah mengatakan bahwa engkau seorang ahli surga. Apa gerangan yang menjadi rahasianya sehingga Rasulullah begitu memuliakanmu?'' Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab, ''Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa kusedekahkan. Yang kumiliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun.''

Memelihara perasaan benci dan marah, berarti menyimpan egoisme. Adanya perasaan benci, berarti adanya sikap untuk menyalahkan orang yang dibenci itu. Dan menyalahkan orang lain berarti membenarkan sikap dan tindakan sendiri. Padahal sikap semacam itu sudah sejak awal diklaim syetan pada penciptaan Adam as. Kisah tersebut memberikan gambaran kepada kita, bahwa perasaan benci, bukan hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit batin yang sangat fatal, sekaligus menjauhkan diri dari surga yang menjadi dambaan setiap mukmin. Sehingga sikap yang paling bijaksana adalah, selalu berusaha untuk mengintrospeksi diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah yang selalu dilakukan Nabi sepanjang perjalanan hidupnya. Sedangkan hidup Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin. ahi

Labels: ,

posted by Musa @ 1:34 AM   0 comments
Republika Online - Rasa malu
Sumber : Republika Online - Rasa malu


Rasa maluSAKURAOZORA.BLOGSPOT.COM
Rasa malu bagi seseorang merupakan daya kekuatan yang mendorongnya berwatak ingin selalu berbuat pantas dan menjauhi segala perilaku tidak patut. Orang yang memiliki watak malu adalah orang yang cepat menyingkiri segala bentuk kejahatan. Sebaliknya, yang tidak memiliki rasa malu berarti ia akan dengan tenang melakukan kejahatan, tidak peduli omongan, bahkan, cercaan orang lain. ''Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,'' begitu mottonya.

Islam menilai, watak malu itu merupakan bagian dari iman. Dengan demikian, orang yang tidak mempunyai rasa malu adalah orang yang hilang imannya. Orang hidup bermasyarakat sudah tentu harus mendengarkan apa kata masyarakat tentang dirinya. Masyarakat tak pelak lagi sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan anggotanya. Masyarakat pula yang berhak mengoreksi apa-apa kelakuan yang tidak baik atau tak pantas anggotanya. Bagi yang tak punya malu, omongan atau koreksi masyarakat akan dianggapnya angin lalu.

Ada sebuah ungkapan warisan para nabi, yang menyatakan bahwa sudah rahasia umum, orang yang hilang perasaan malunya tak lain dari orang yang sudah terbiasa berbuat kemungkaran dan kemaksiatan dalam segala jenis dan bentuknya. Ia mau melakukan kejahatan, kelaliman dan kekejian.

Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya, yang dapat diambil sebagai pelajaran dari para nabi terdahulu ialah, apabila kamu sudah tidak mempunyai perasaan malu maka berbuatlah semaumu;'' riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Itu berarti, orang yang demikian sulit untuk mau mawas diri, meski berhadapan dengan umpatan dan kecaman orang banyak pun.

Berdasar riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung, bila berkehendak menjatuhkan seseorang maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya). Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya.

Bila kepercayaan kepadanya sudah hilang maka ia akan jadi orang yang khianat. Dengan menjadi khianat maka dicabutlah kerahmatan dari dirinya. Bila rahmat dicabut darinya maka jadilah ia orang yang dikutuk dan dilaknati orang banyak. Dan bila ia menjadi orang yang dilaknati orang banyak maka lepaslah ikatannya dengan Islam.'' ahi

Labels: ,

posted by Musa @ 1:17 AM   0 comments
Kesadaran Sejati Selalu Ada
Monday, February 16, 2009

Kehidupan para mahluk di zaman sekarang semakin disibuki hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan duniawi. Mereka tidak lagi menyadari bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan hanya sebatas untuk memuaskan segala keinginan yang timbul dari pikirannya. Sehingga tujuan kehidupan mereka hanya terpusat untuk memenuhi keinginan-keinginan yang bersumber dari pikirannya.

Kesadaran Sejati tidak akan pernah hilang, karena sejak awal Kesadaran Sejati telah ada..

Keinginan yang timbul ini selalu memperdaya kesadaran sejatinya. Sangat disayangkan para mahluk tidak lagi menyadari keterperdayaannya. Mereka tidak menyadari awal jati diri yang sebenarnya, karena mereka tidak pernah lagi memahami kesadaran sejati yang telah ada sejak awal timbulnya kehidupan.

Para mahluk juga harus memahami bahwa kesadaran Sejati juga bukan sesuatu yang khusus, spesial, ataupun istimewa, karena setiap mahluk pada awalnya telah memilikinya, dan pada tengahnya masih memilikinya, dan pada akhirnya tetap memilikinya.

Kesadaran Sejati menjadi special hanya karena sangat sedikit para mahluk yang menyadari dan memahami bahwa mereka adalah Kesadaran Sejati pada awalnya, pada tengahnya, dan pada akhirnya.


dikutip dari buku "Kesadaran Sejati Bagian 6 - oleh: Wisnu Prakasa

Labels: ,

posted by Musa @ 5:54 AM   0 comments
Menang - Kalah Dalam Hubungan
Friday, February 13, 2009

Kemenangan Diri Itu Kunci
Istilah kalah-menang ini sangat kerap kita munculkan dalam praktek hubungan dengan orang lain (relationship). Hubungan di sini bisa termasuk hubungan dalam wilayah publik (mitra bisnis, rekan profesi, dosen, dst) dan hubungan dalam wilayah privat (suami-istri, keluarga, sahabat, dst). Bentuknya pun bisa berupa materi dan non materi, bisa dalam bentuk hasil atau dalam bentuk proses.

Dorongan untuk mendapatkan kemenangan itu, kalau menurut Horney (Our Inner Conflict, 1945), termasuk salah satu kebutuhan manusia atau termasuk naluri bawaan dari semua orang. Menurutnya, kebutuhan manusia itu bisa dikelompokkan menjadi tiga:

  1. Manusia butuh bergerak mendekati orang lain untuk mendapatkan cinta, penerimaan, kasih sayang, penghormatan, dst
  2. Manusia butuh bergerak menjauhi orang lain untuk mendapatkan kebebasan, kemandirian, ketenangan, dst
  3. Manusia butuh bergerak menentang orang lain untuk menunjukkan kekuatan, kemenangan, atau kehebatan, dst

Namun begitu, namanya juga bawaan. Bawaan itu adalah potensi. Potensi itu bahan baku. Karenanya, bisa membahayakan dan bisa menguntungkan. Ini tergantung bagaimana potensi itu diolah atau "dididik". Seseorang yang saya kenal, sebut saja namanya A, menyadari bahwa hubungannya dengan orang lain itu akhirnya kalah, meskipun dulunya ia selalu menganggap itu kemenangan.

Sewaktu masih muda, si A ini merasa punya temparemen tinggi dan perfeksionis. Dengan darah mudanya, ia selalu punya standar bahwa orang lainlah yang harus mengerti siapa dirinya. Ditambah dengan penguasaan skill nya yang tinggi, standar itu sangat sempurna untuk diterapkan. Sedikit saja menemukan ketidakberesan pada orang lain, langsung keluar ultimatum. Ini membuat dia sering ganti mitra usaha dan juga sering pindah pekerjaan.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata ia berubah pikiran. Kesimpulannya, kemenangan yang ia agungkan dulu, ternyata kurang bisa memberikan kualitas hubungan yang bertahan lama. Dorongan untuk selalu harus menang itu malah menyebabkan kekalahan di kemudian hari. Bentuknya antara lain: relasinya tidak banyak, relasinya hanya bersifat sementara, kurang memiliki pendukung yang loyal, dan seterusnya.

Dari sejumlah kasus serupa yang kerap kita jumpai, kemenangan itu selalu nisbi dan relatif, sejauh itu kita pahami sebagai padanan atas kekalahan orang lain. Kenapa? Selain kerap didorong oleh hawa nafsu, kemenangan dengan mengalahkan orang lain itu akan memunculkan perlawanan. Ini karena tidak ada manusia yang mau dikalahkan. Karena itu, doktrin kesatriaan mengajarkan bahwa sampai pun kita harus menang melawan orang lain, hendaknya jangan sampai membuat harga diri orang lain jatuh.

Supaya kemenangan itu tidak relatif dan tidak nisbi, ajaran kearifan di dunia ini mengajak kita memahami kemenangan bukan seperti itu. Kemenangan itu jangan dipahami sebagai padanan atas kekalahan orang lain, terutama dalam praktek hubungan sehari-hari, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas diri itu adalah bentuk kemenangan yang kita raih dengan menguasai naluri bawaan untuk menang itu supaya tidak membuat kita kalah, nantinya.

"Semakin banyak orang lain yang berhasil kita kalahkan,
seringkali malah membuat posisi kita semakin lemah"


Beberapa Ciri Kemenangan Diri

Orang yang menang atas dirinya itu bukanlah sosok yang tidak pernah maju ke adu kalah-menang dalam hubungan. Orang yang menang atas dirinya itu bukanlah sosok yang terlalu amat baik sehingga mau dijadikan korban oleh orang lain. Orang yang menang atas dirinya itu bukanlah orang yang tidak pernah marah sama orang lain.

Perlu kita ingat bahwa kemenangan diri itu adanya di level hubungan intrapersonal antara kita dan diri kita. Bahwa ada orang lain yang membuka pintu adu kalah-menang, ada orang lain yang merugikan dan menguntungkan, ada orang lain yang perlu dihormati atau dimarahi, itu semua adanya di level hubungan interpersonal antara kita dengan orang lain.

Intinya, orang yang menang atas dirinya itu tetap melakukan hal-hal yang manusiawi atau tetap menghadapi realiatas hidup yang muncul dari konsekuensi hubungan dengan orang lain. Hanya saja, bedanya adalah:

  • Pertama, menang atas diri itu berkonsentrasi pada upaya untuk memperjuangkan visi, merealisasikan tujuan jangka pendek atau jangka panjang, atau mengaktualisasikan potensi guna meraih prestasi. Misalnya saja kita menghadapi pertarungan office politic yang sudah sampai pada tingkat saling menjatuhkan. Sejauh kita tetap bisa mengkonsentrasikan pikiran dan tindakan pada visi, tujuan, dan aktualisasi, maka kemenangan sudah kita raih.
  • Kedua, menang atas diri itu mempertahankan nilai-nilai yang kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatannya sudah tidak diperdebatkan lagi karena memang sudah mutlak. Dalam beberapa kasus, ini membutuhkan pengorbanan dan seringkali tampak seperti kekalahan. Karena itu, dalam ajaran agamanya, kalau kita malah sial dengan mempertahankan nilai, namanya bukan musibah, melainkan ujian (bala'). Ujian ini adalah moment untuk menguji apakah kita akan commit dan sabar atas inisiatif kita atau hanya setengah-setengah. Kerap ada orang yang mengalami susahnya mencari pekerjaan yang bersih setelah resign atau tobat dari pekerjaan dulu yang kotor. Jika orang ini kalah atas dirinya, dia akan mudah kembali lagi ke pekerjaan lama yang kotor itu. Tapi jika menang, dia akan berhasil melewati ujian. Karena sering ada ujian dan kekalahan ini, makanya Tuhan mewanti-wanti agar jangan sampai orang yang mempertahankan nilai itu tertipu oleh realitas yang temporer dan superfisial.
  • Ketiga, menang atas diri itu menyelaraskan kepentingan pribadi, subyektivitas pribadi, atau egoisme hawa nafsu pribadi pada nilai-nilai, ajaran, atau akal sehat. Jadi, kita menomorsatukan nilai sebelum kepentingan. Semua orang pasti punya kepentingan pribadi sebab inipun ada gunanaya. Bedanya, ada yang ditundukkan pada nilai, ajaran, atau akal sehat dan ada yang mengabaikan semua itu. Bukti ketundukan itu sama sekali tidak bisa diukur dari pernyataan kita di depan orang lain, di tempat meeting, atau di depan press, melainkan dari pembuktian yang kita lakukan atas diri kita. Meminjam istilahnya Covey, bukti ketundukan itu bisa dibedakan apakah ketundukan itu pada "Apa" (what is the right) atau pada "Siapa" (pribadi atau lembaga). Kalau kita sudah berhasil tuduk pada "apa" (nilai kebenaran yang sudah tidak diperdebatkan lagi), berarti kemenangan kita semakin bagus.
  • Keempat, menang atas diri itu menghindari cara-cara yang merugikan atau yang mencelakakan, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Kalau kita kehilangan engagement, motivasi, dan ide-ide perbaikan di kantor gara-gara melihat ketidakadilan, meskipun ini manusiawi, namun sejatinya kita telah kalah oleh diri kita. Mestinya, sambil tetap berupaya menyelesaikan ketidakadilan, kita pun tetap melakukan hal-hal positif untuk diri kita, minimalnya. Menang atas diri itu sebetulnya bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang harus kita tempuh agar bisa mencapai tujuan. Tujuannya adalah memperjuangkan visi, mempertahankan nilai, atau pengembangan diri. Artinya, kalau proses meraih tujuan ini terhenti gara-gara penyimpangan dan pelanggaran orang lain, berarti tujuan dari kemenangan diri itu tidak tercapai.
  • Kelima, menang atas diri itu mengambil dan mengeluarkan. Kita akan menang apabila berhasil mengambil pelajaran dari apapun yang menimpa kita untuk diolah menjadi benefit atau profit yang bisa kita keluarkan dari diri kita. Dengan cara ini berarti perbaikan demi perbaikan akan terus muncul.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kemenangan-diri itu punya efek positif bukan semata pada wilayah hubungan intrapersonal, melainkan juga pada domain hubungan interpersonal. Efek positif itu bisa muncul entah dalam rangka untuk mengajak atau menghadapi orang lain sebagai lawan. Misalnya kita ingin mengajak pasangan kita (suami istri) untuk merayakan ulang tahun anak di rumah. Kalau yang kita munculkan itu selera pribadi, lebih-lebih egoisme pribadi, biasanya akan menghadapi perlawanan atau memunculkan selera tandingan.

Tapi kalau yang kita munculkan itu adalah keberpihakan pada nilai-nilai kesederhanaan, kemaslahatan, atau nilai apapun, biasanya itu relatif lebih enak diterima dan lebih kecil potensi munculnya selera tandingan. Tentu saja perlu didukung dengan cara-cara yang baik dalam mengkomunikasikan keberpihakan itu. Bahkan jika keberpihakan ini sudah menjadi budaya hidup, biasanya ini akan dipahami sebagai kharisma. Kharisma akan muncul sebanding dengan keberpihakan kita.

Menurut catatan Terry Orlick (The Wheel of Excellence, 2004), pakar psikologi olahraga, kemenangan-diri itu akan menentukan nasib seorang atlet di atas ring. Tidak semua atlet yang mengalahkan lawan tandingnya itu akan menjadi pemenang. Bisa jadi kemenangan saat itu akan menjadi awal kekalahannya. Begitu juga tidak semua atlet yang dikalahkan di atas ring itu akan kalah selamanya. Bisa jadi kekalahan saat itu adalah jalan menuju kemenangannya.

Dinamika ini akan ditentukan oleh kemenangan diri. Atlet yang kalah di atas ring, namun terus belajar dari kekalahannya, tetap berlatih, tetap menjaga nilai-nilai, atau tetap punya penyikapan yang positif, pasti akan meraih kemenangan nantinya, entah dalam bentuk apapun. Tapi, atlet yang menang di atas ring, namun makin malas latihan, mengabaikan nilai, lebih berkonsentrasi pada pemberitaan press ketimbang latihan, dia akan kalah nantinya.

"Sebelum Anda menjadi warrior, Anda harus menjadi winner"
(Doktrin Samurai)

Dinamika Hubungan
Dalam praktek sehari-hari, hubungan antarmanusia itu sedinamis manusianya. Dinamika hubungan ini kalau mengacu ke pemikirannya Tom Jaap (Enabling Leadership, Achieving Result with People, 1989), bisa dijelaskan sebagai berikut:

  1. Konsesi (concession). Kita menyadari perlunya mengalah untuk membuat orang lain merasa menang atau merasa senang (lose-win), baik dalam bentuk sikap atau hasil.
  2. Kompromi (compromise). Kita mengajak orang lain untuk bisa sama-sama menerima kerugian (lose-lose), bisa 50%: 50%dan bisa 40: 60, tergantung keadaan.
  3. Konsensus (consensus). Kita menciptakan kesepakatan yang win-win, semua pihak merasa menang, atau tidak ada yang dirugikan, minimalnya.
  4. Paksaan (Coercion). Kita menggiring orang lain untuk harus kalah atau menciptakan strategi yang membuat kita meraih kemenangan lebih banyak, baik dengan paksaan yang hard atau yang soft. Biasanya ini kerap ditempuh oleh orang yang powerful (posisi di atas) atau powerless (minder atau takut)

Keempat dinamika di atas bisa jadi ada yang kita kondisikan sebagai strategi atau ada yang membuat kita terkondisikan oleh faktor eksternal tertentu. Sejauh itu ditopang oleh kemenangan diri, seperti yang sudah kita bahas ciri-cirinya di muka, maka kemungkinannya hanya ada tiga:

  • kita akan sama-sama meraih kemenangan,
  • kalau kita kalah, kekalahan itu tidak total atau tidak kalah selamanya, dan
  • kalau kita menang, kemenangan itu tidak sampai membuat orang lain jatuh harga dirinya.

"Kekalahan itu sementara sifatnya,
namun akan abadi apabila kita kalah oleh diri kita."

Sumber : Ubaydillah, AN

Labels: ,

posted by Musa @ 9:28 AM   0 comments
Cara-cara Memelihara Persahabatan
Terbentuknya Persahabatan
Kita semua tentu punya alasan sendiri kenapa memilih untuk membangun persahabatan. Pada umumnya, hubungan itu timbul karena perasaan yang merasa ada keterikatan (attachment): senasib sepenanggungan, sevisi, seminat, dan seterusnya dan seterusnya. Atau ada juga yang karena kesaling-bergantungan (interdependence): membutuhkan bantuan, dukungan, dan lain-lain.

Dalam prakteknya, persahabatan itu kita bedakan dengan pertemanan. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada intensitas keterlibatan emosi dan komitmen. Karena itu, terkadang tidak cukup kita mengatakan "friend" untuk menyebut seorang sahabat, tetapi masih kita tambah dengan kata sifat "close friend". Kalau mengacu ke teori hubungan antar pribadi menurut Verderber & Verderber (Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi, 1996) persahabatan itu mungkin istilahnya adalah Deep Friendship. Berdasarkan skala intimasi dan komitmen yang muncul, hubungan antar pribadi itu dikelompokkan menjadi seperti berikut ini:

  1. Aquintance Relationship (perkenalan biasa)
  2. Friendship Relationship (pertemanan karena kesamaan minat, sifat, dan kepentingan).
  3. Role Relationship (hubungan berdasarkan peranan atau kepentingan)
  4. Deep Friendship or Intimate Relationships (Hubungan yang sudah melibatkan emosi dan komitmen)

Dari bukti-bukti di lapangan ditemukan bahwa persahabatan yang bagus itu punya banyak manfaat. Salah satunya adalah bisa mencegah hipertensi (Reardom, Interpersonal Communication: Where Minds Meet, 1987). Secara kesehatan dijelaskan bahwa hipertensi adalah tekanan darah atau denyut jantung yang lebih tinggi dari yang normal karena ada penyempitan pembuluh darah atau karena sebab lain. Bisa juga berguna untuk menurunkan dan mengurangi potensi stress atau depresi.

Misalnya saja Anda saat ini sedang belajar di lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin tegas. Namanya disiplin, pasti maksudnya baik. Cuma, dalam eksekusi di lapangannya, pasti juga ada kemungkinan munculnya penyimpangan prosedur oleh individu yang tak jarang menimbulkan tekanan, ketegangan, atau himpitan. Dengan memiliki cantolan klub, forum, atau kelompok yang tingkat persahabatannya bagus, itu akan bisa membuat kita lebih sabar dan terhibur.

Kalau melihat temuan Maslow, ternyata salah satu karakteristik self-actualized person itu adalah punya sahabat atau kenalan yang jumlahnya sedikit namun berbobot intimasi dan kualitasnya (Human Development, Vander Zender, 1989). Ini mungkin bisa kita tafsirkan bahwa mereka itu punya sahabat atau orang dekat. Tafsiran ini memang seringkali sinkron dengan realitas yang kerap kita temui di lapangan. Banyak 'kan kita mengenal sejumlah tokoh atau orang-orang tertentu yang berprestasi di bidangnya (di semua level) yang ternyata dulu mereka bersahabat dengan orang-orang tertentu dan persahabatan itu berlangsung sampai sekarang.

Bahkan, kata orang, Tuhan itu kalau mengangkat derajat seseorang jarang secara individu. Tuhan itu mengangkat derajat seseorang sekaligus dengan kelompoknya. Ini tentu refleksi personal yang subyektif. Tapi memang secara rasional, ungkapan itu ada rujukannya. Karena mereka yang bersahabat itu membangun kedekatan lahir dan batin, sudah barang tentu mereka punya mindset yang sama, kultur hidup yang sama, atau karakter yang sama. Logikanya, ketika orang sudah dibentuk oleh prinsip-prinsip yang sama, maka sangat mungkin mereka mendapatkan nasib yang sama.

"Isi pikiranmu membentuk tindakanmu, tindakanmu membentuk kebiasaanmu, kebiasaanmu membentuk karaktermu, karaktermu membentuk nasibmu." (Aristotle)


Jadi, yang menyebabkan mereka punya kesamaan nasib, bukan kesamaan kelompoknya, melainkan kesamaan isi pikiran, tindaan, kebiasaan, dan karakter.


Kapan Kendor & Kapan Pecah
Dalam prakteknya, persahabatan itu bisa kendor dan bisa pula pecah. Secara umum, kendornya intimasi persahabatan itu mulai muncul ketika masing-masing atau salah seorangnya sudah punya kepentingan dan kebutuhan yang ditandai dengan berubahnya status. Misalnya saja dari mahasiswa ke pekerja atau dari bujangan ke ber-rumahtangga, dari orang biasa ke orang penting.

Kalau menurut ucapannya Sigmund Freud, orang dewasa itu isi pikirannya yang paling dominan hanya dua: to love and to work. Mereka berkonsentrasi pada keluarga (to love) dan kerjaannya (to work). Kohesi persahabatan yang terjadi pada kehidupan orang dewasa biasanya adalah lanjutan dari persahabatan sebelumnya atau karena kepentingan dan kondisi yang dirasakan sangat spesifik (benar-benar senasib).

Ini kerap terjadi pada tenaga kerja atau pelajar di luar negeri. Karena sama-sama senasib, sama-sama dari Indonesia, sama-sama punya kepentingan yang sama, dan merasakan keadaan yang relatif sama, maka persahabatan terbentuk. Tapi, menurut kebiasaan, persahabatan yang terbentuk ketika usia seseorang sudah banyak kepentingan, memang rasanya beda dengan ketika seseorang masih di usia remaja atau dewasa muda.

Nah, lalu kapan persahabatan akan terancam bubar? Masalah yang melatarbelakangi bubarnya persahabatan itu pasti bermacam-macam. Menurut Duck (1985), biasanya fase-fase bubarnya hubungan (disolusi) itu diawali dari proses di bawah ini:

  1. Ketidakpuasan dari hubungan itu. Misalnya saja kita menerima perlakuan yang tidak fair, atau persahabatan yang ada tidak membuahkan hasil-hasil tertentu seperti yang semula dibayangkan. Misalnya saja persahabatan karena narkoba.
  2. Upaya menarik diri. Kita sudah merasa tidak cocok lagi atau ada keinginan untuk menentang atau juga kita menarik diri. Bisa juga setelah kita menghitung untung-rugi, manfaat-keuntungan.
  3. Mempraktekkan keputusan unuk menghindar atau menjauh

Bisa juga disolusi itu terjadi sesuai dengan urutan yang ditemukan Hawk Williams (The essence of managing group & teams, 1996) berikut ini:

  1. Ada problem yang kita jumpai (menurut versi kita) pada dia
  2. Kita membiarkan / tidak menunjukkan problem itu kepada orang yang kita anggap punya masalah dengan kita
  3. Problem itu tetap muncul atau terus bertambah
  4. Perasaan negatif terus menggunung / mengakumulasi
  5. Kita kehilangan perspektif tentang orang itu.

Dalam organisasi kepemudaan yang rata-rata kita lihat mereka bersahabat, urutan di atas kerap terjadi. Si A dipandang telah sering melakukan tindakan yang melanggar prinsip dasar organisasi. Karena bersahabat, mereka tidak langsung menegur atau mengingatkan secara terang-terangan. Si A sendiri tidak sensitif menangkap gelagat ketidaksetujuan para sahabatnya. Proses ini terus berlanjut dan masing-masing pihak menyimpan bara api ketidaksetujuan dan ketidakpedulian di dadanya. Hingga pada puncaknya, Si A dipecat dari organisasi itu. Jika Si A tidak terima, terjadilah upaya saling menjatuhkan dimana masing-masing orang kehilangan perspektif persahabatannya.

"Hindarilah bersahabat dengan orang yang membohongimu, hindarilah bersahabat dengan orang yang memanfaatkanmu, dan hindarilah bersahabat dengan orang menjerumuskanmu" (Ali bin Abu Thalib)



Beberapa Cara Mempertahankan Persahabatan
Untuk persahabatan yang tengah kendor intimasinya karena ada perbedaan dan perubahan, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:

Pertama, menjaga ritme dan frekuensi hubungan. Jangan terlalu sering atau jangan sama sekali putus hubungan. Aturlah ritme dan frekuensinya. Kenapa? Jika Anda terlalu sering, padahal status dan peranan sahabat Anda itu sudah tidak seperti dulu lagi, akan lain tafsirannya. Tapi jika hubungan itu terputus sama sekali, ini juga tidak tepat.

Jika kebetulan nasib kita ternyata lebih di atas, akan lebih bagus kalau kita yang berinisiatif memulai memelihara persahabatan itu. Kalau memungkinkan dan itu dibutuhkan, yang perlu kita lakukan bukan semata 'say hello' atau sekedar bernostalgia, melainkan juga perlu merambah ke gagasan-gagasan pemberdayaan, entah untuk sahabat kita yang lain atau untuk orang lain.

Kedua, hormati privasinya. Dengan peranan dan status yang sudah tidak seperti dulu lagi, tentu sahabat kita ini memiliki aturan hidup yang baru, entah itu terkait dengan keluarganya atau pekerjaannya. Agar persahabatan tetap terjaga, yang perlu kita lakukan adalah menghormati privasinya. Bahkan juga tidak saja perlu menghormati dia semata, tetapi juga orang-orang penting di sekitarnya, misalnya saja suami-istri, atasan-bawahan, dan lain-lain.

Apabila kita berada di posisi yang sebaliknya (orang yang dicari), yang perlu kita hindari adalah curiga duluan kalau sahabat kita ini pasti membawa masalah atau mau minta bantuan, hanya memberi nasehat dengan cara merendahkan, hanya memamerkan kekayaan (unjuk-diri), atau memperlakukannya terlalu formal dan menunjukkan kesan terlalu menjaga wibawa.

Ketiga, hindari meminta bantuan dengan nada dan gaya menuntut (demanding) kecuali memang ada suasana psikologis yang mendukung dan itu tidak melibatkan orang lain selain sahabat Anda. Lebih-lebih, karena tuntutan kita tak terpenuhi, kita kemudian menyebarkan gosip tak sedap, misalnya sahabat kita ini sekarang orangnya sudah lain, makin sombong, angkuh, tak peduli, dan lain-lain. Akan lebih sip kalau kita menempuh cara-cara profesional yang tetap mengedepankan etika dan strategi.

Bila kita berada di posisi sebaliknya, hindari mengeluarkan pernyataan semacam tidak bisa, itu sulit, atau itu tidak mungkin dan semisalnya dengan nada untuk menutup berbagai kemungkinan. Kalau kita tidak bisa membantu langsung, kita bisa membantu secara tidak langsung. Kalau kita tidak bisa membantu keinginannya, kita bisa membantu kebutuhannya. Intinya, munculkan semangat untuk membantu.

Itu semua bisa kita lakukan ketika persahabatan kita dulu adalah persahabatan dalam hal-hal yang positif. Untuk persahabatan yang negatif, tinggalkanlah dengan cara yang baik. Misalnya dulu kita punya geng yang suka narkoba. Karena kita sudah tobat, kita perlu memutus hubungan dengan sahabat-sahabat yang masih terlibat. Tujuannya adalah agar kita tidak terlibat lagi.

Adapun untuk kita yang masih dalam tahap sedang asyik-asyiknya menjalani hidup dengan persahabatan, beberapa hal yang perlu kita ingat adalah:

  1. Nikmatilah persahabatan yang ada tetapi jangan sampai menghilangkan diri Anda. Jadikan persahabatan saat ini sebagai lahan untuk aktualisasi-diri dengan bertukar pengalaman, pengetahuan, informasi, berbagi perasaan, dan lain-lain. Termasuk juga jangan sampai persahabatan ini merenggangkan hubungan dengan orang-orang inti: orangtua dan keluarga. Anda tetap bisa bersahabat tanpa harus memunculkan ketegangan dengan orangtua atau keluarga
  2. Inisiatifkan untuk memunculkan gagasan-gagasan positif, entah itu yang berkaitan dengan akademik atau non-akademik. Sebagai acuan, buatlah learning group (kajian akademik, dst), problem solving group (bantuan sosial, dst), atau growth group (pengasahan bakat, dst). Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan Anda di masa mendatang.
  3. Jagalah jangan sampai punya kepentingan yang bertabrakan dengan kepentingan sahabat. Bila itu terjadi, buatlah kesepakatan sefair mungkin dengan melibatkan sahabat lain.
  4. Hormatilah dan jangan "memanfaatkan". Misalnya kita bersahabat dengan si anu karena orangtuanya kaya, terpandang, atau ada agenda politis yang kita sembunyikan untuk memanfaatkan sahabat kita. Bersahabatlah karena kecocokan jiwa.
  5. Mendukung dan membantu. Banyak orang yang bisa membantu sahabatnya ketika sedang kesusahan tetapi tidak bisa mendukung sahabatnya yang sedang meraih kemajuan. Lawanlah iri dengki di dada dengan cara mendukung dan membantu.
  6. Kembangkan perspektif yang fair. Biarpun itu sahabatmu, jangan sampai kehilangan perspektif yang fair. Sebab, pasti ada yang positif dan pasti ada yang negatif. Temukan positifnya sebanyak mungkin.
  7. Biasakan saling memberi nasehat dengan cara yang bersahabat, bukan dengan cara menilai, mengoreksi, lebih-lebih membicarakannya di belakang.

"Sahabatmu adalah orang yang sudah tahu banyak tentang dirimu dan tetap bersahabat denganmu"

Sumber : Ubaydillah, AN

Labels: ,

posted by Musa @ 9:09 AM   0 comments
à Mon Sens "KEMENANGAN"
Sunday, January 11, 2009

Kepada siapakah anda suka mengalah atau anda adalah orang yang sulit untuk mengalah kepada siapapun?

Setujukah dengan peribahasa mengalah untuk menang?
Apakah anda mau mengalah kepada orang yang lebih bodoh dan muda daripada anda?
Atau anda hanya mau mengalah kepada orang yang lebih tua dan pintar?
Apakah anda malu untuk mengalah?

Aku mengalah…
Bukan karena kalah…
Aku sekadar berserah…
Kepada takdir yang maha esa…

Mungkin benar…
Suatu hari nanti… apa yang pergi akan kembali…


Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang selalu mengingat Sejarahnya. Betapun Pahitnya sejarah itu tapi itu adalah merupakan penggalan yang tidak akan dilupakan. Arti sebuah Kemenangan buat Masyarakat Saint peterburg tidak bisa dilupakan.

Blokade LENINGGRAD selama 300 hari lamanya yang dilakukan oleh tentara NAZI masih membekas di hati masyarakat Peterburg. Saksi sejarah menceritakan begitu susahnya dikepung dari segala penjuru sehingga hanya bisa bertahan denganjatah makanan yang ditakar. Tapi dengan semangat pantang menyerah pasukan NAZI bisa ditaklukan dan merupakan awal dari kemenangan-kemenganan Rusia atas tentara NAZI.

Sampai dimanapun sejarah tidak akan pernah dihapus, sampai dimanapun orang akan selalu mengingat sejarah tersebut. Wajar apabila banyak yang emosional mengingat hal itu. Kultur dan semangat Masyarakat Peterburg yang sangat kuat merupakan Pondasi didalam membangun negara Rusia. Pertanyaannya “Apakah Bangsa Kita masih Memiliki sikap yang sangat menghormati sejarah walaupun itu sangat kelam ?” Hanya Waktu yang Bisa Menjawabnya ????

Sumber : Arti Sebuah Kemenangan



Setelah bertanya pada om Google, Menurut saya Best Answer
by Asker
Saya orang yg fleksibel tetapi juga rasional. Ada saat dimana saya akan mengalah, selama hal yg diperdebatkan tidak "membahayakan", tapi ada saat dimana saya juga harus tegas, karena hal yg diperdebatkan bisa menimbulkan hal/akibat yang tidak baik.
Tapi pada intinya, saya orang yang lebih suka berdiskusi terlebih dahulu, secara baik2, sebelum mengambil sikap, apakah saya harus mengalah demi kebaikan semua, atau saya harus tegas, demi kebaikan semua juga.
Bagi saya, tidak selamanya "Silence is golden" (dalam hal ini, diam karena mengalah), adakalanya "Silence makes it worst".
Selama semua didasarkan oleh "kebenaran", tidak ada yg akan merasa dikalahkan ataupun mengalahkan. Yang ada hanya "win win solution". Setuju?

Labels: , ,

posted by Musa @ 5:37 PM   0 comments
Cara Hidup Harmonis
Sunday, February 03, 2008
sumber : SUARA PEMBARUAN DAILY

Sukses dan Hidup Harmonis, Tujuan Hidup Berorganisasi

Seseorang memegang peranan penting dalam dunia ini dan dirasa bijaksana oleh orang-orang yang hidup di sekitarnya. SP/ irawati diah astuti

Oleh Lianny Hendranata

Hidup di era sekarang, semua orang berkonfrontasi dengan banyak pertanyaan akan hidup. Kita semua menyadari, saat ini adalah zaman di mana banyak ketidakpastian dan banyak hal bisa terjadi tanpa terduga. Sulit memprediksi hasil akhir dari usaha atau hidup kita.

Jika kita bisa menyadari bahwa untuk tetap bisa berjalan dalam iklim yang sulit ini, maka kita disarankan untuk berhenti memakai cara saling menyalahi dan merasa diri paling hebat dan semua kendali ada pada kejeniusan otak kita.

Namun, jiwa kita harus mendapat prioritas untuk harmonis, dalam jiwa yang harmonis, akan lahir tubuh yang sehat dan manusia yang berpikir serta bertindak dengan kebijaksanaan.

Penting untuk kita mempunyai kepercayaan diri yang kuat, tetapi lebih penting lagi jika kita mulai bekerja dengan "heart & soul" hanya dengan kesadaran ini kita mampu menjadi fleksibel berkreasi dalam menjiwai suatu tantangan hidup.

Linda Simons, misalnya, adalah wanita Indonesia yang cerdas serta berpendirian kuat, yang dia ekspresikan sebagai sarjana hukum lulusan universitas di Indonesia dan Belanda. Tetapi, ketika dia harus menjalankan sisa hidupnya di Belanda, tanah kelahiran ibunya, maka ada perasaan bahwa hidupnya sebagai jiwa yang terperangkap dalam dualisme, mengalami culture shock, seperti diungkapkan Alvin Toffler dalam menggambarkan perbedaan budaya atau gambaran kehidupan dualisme.

Selain itu, istilah dualisme digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, kehidupan berpolitik juga dalam "Dualisme Antropologi" yang digambarkan oleh filsuf Plato sebagai kenyataan dan bayangan idealisme, "Dualisme etika" yang digambarkan dalam kebaikan dan kejahatan.

Selain itu ada "Kosmisch Dualisme" yang mengajarkan bahwa di dalam kehidupan pasti ada dua hal yang saling bertentangan, yaitu antara materi atau fisik dan psikis, awal dan akhir, alfa dan omega, serta sifat sementara dan kekal. Demikian pula istilah Tiongkok "yin- yang" mengenal dua sisi dalam satu lingkaran, yaitu sesuatu hal yang berlawanan dalam satu wadah.

Namun, kini timbul pertanyaan baru: Apakah dualisme harus selalu dipisahkan. Bisakah kita memisahkannya dalam pikiran, perasaan dan tindakan kita dalam hidup ini. Bagaimana dan apa yang harus dilaku- kan oleh orang yang mengalaminya sendiri.

Toleransi Vs Risiko

Kehidupan dualisme culture shock bukan saja dialami oleh orang yang tinggal di negara asing, tetapi oleh orang yang memasuki hidup berumah tangga, di mana sepasang manusia dengan perbedaan lingkup hidup, cara dibesarkan, dan kultur-kultur leluhurnya, latar belakang pendidikan, perbedaan usia dan sebagainya. Maka menjadikan dua orang yang bersatu dalam mahligai rumah tangga, menpunyai "kewajiban" menjadi suatu hal yang harus dibereskan untuk bisa hidup harmonis secara lahir batin.

Sebab, jika satu pihak dominan mempertahankan, sementara yang lain ditindas untuk mengalah, maka yang terjadi keduanya frustasi. Demikian juga jiwa yang terjebak dualisme dalam satu tubuh diri sendiri. Jika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, maka kita terjebak frustasi berkepanjangan yang memengaruhi segala aspek hidup kita.

Kehidupan dualisme yang mau tidak mau, melahirkan terapi kejut untuk diri kita, maka culture shock menjadikan freedom of expression, di mana kebebasan berekspresi mempunyai harga yang sesuai dengan apa yg direalisasikan dalam interaksi, dan harganya adalah toleransi atau risiko. Itulah dualisme yang harus kita cermati untuk menjalani hidup harmonis, bagaimana kita bisa hidup dengan damai sejahtera, kita jiwa kita sendiri mempunyai dualisme yang saling berperang. Harga dari ini sangat mahal, yaitu kesehatan dan kesuksesan hidup. Itu harganya!

Jika kita memandang keharmonisan dualisme ini sebagai sesuatu yang mutlak (absolut) harus diharmoniskan, maka pertanyaannya adalah apakah otomatis sebuah toleransi harus selalu ada risikonya? Apakah selalu dualisme mempunyai aspek berlawanan yang selalu harus bersanding atau bersaing?

Pertanyaan yang bagus untuk dijawab oleh jiwa kita, Bagaimana harus menyikapi hidup di dunia ini. Yang jelas, pandangan subyektif dirasa kurang tepat lagi diterapkan dalam zaman sekarang, Dimanapun kita hidup dan berada, baik dalam konteks nasional maupun internasional, maka sebagai ilmuwan dengan pendidikan dualisme dalam jiwanya, Linda Simons memberi pendapatnya, sebaiknya pandangan obyektif-lah yang harus selalu kita terapkan untuk mengambil keputusan di dalam kehidupan ini.

Lebih tepat jika kita bisa memandang sesuatu dari "atas", sebab melihat dari atas mewakili kebijaksanaan, tidak "berpihak" berbeda dengan memandang dari sisi kiri atau kanan, samping atau belakang. Jika demikian kita memandang, maka ada sisi yang terhalang untuk dilihat.

Tetapi memandang dari atas akan memberi pandangan obyektif yang luas, maka kita bisa berinteraksi, berinovasi dan berinspirasi berdasarkan Situasi, Kondisi, Toleransi, Pandangan, dan Jangkauan jiwa kita.

Menjadi manusia yang obyektif tidaklah mudah, namun imbalannya bisa menjadikan seseorang memegang peranan penting dalam dunia ini dan dirasa bijaksana oleh orang-orang yang hidup di sekitarnya, seperti posisi seorang hakim dalam lembaga peradilan, selalu mempertimbangkan kepentingan dua belah pihak yang sedang bersengketa.

Tak kalah pentingnya menempatkan diri pada situasi yang tepat, waktu yang tepat, terhadap orang yang tepat, dan dengan rangkaian kata-kata yang tepat.

Dengan demikian risiko dari sebuah toleransi yang kita berikan akan memberi sebuah harga dari "freedom of expression", kebebasan berekspresinya sebuah jiwa yang melahirkan inovasi berpikir dan inspirasi kesuksesan dalam lingkup keadilan dalam menyejahterakan orang lain dan diri sendiri.

by : ray_and_mel@hotmail.com

Labels:

posted by Musa @ 9:03 PM   0 comments
About Me

Name: Musa
Home: Depok, Jawa Barat, Indonesia
About Me: Seorang yg sederhana, moderat, individu serta suka dedikasi dan komitmen dalam semua aspek hidup. Dalam pandanganku sendiri sebagai seorang stabil, bertanggung jawab, percaya diri dan orang penuh kasih yang mempunyai niat baik. Kenangan dari segalanya langkahku merupakan pengalaman berharga dimasa mendatang. Petualanganku dimulai dari pulau “Celebes” yang lebih dikenal dengan Sulawesi. Tepatnya di daerah Gorontalo tempat kelahiran dan masa-masa kecilku bermain dan tumbuh. Minat yang berkisar akademis terutama hardware system, petualangan. Mengunjungi suatu tempat dan hidup bebas dari “penjajahan” kesenangan penuh kasih. Bagaimanapun, seorang Purnawarman Musa masih merasakan bahwa aku bukanlah seorang yang sempurna.


YM ID : adadegh
See my complete profile
Facebook ID
Previous Post
Archives
Current Moon
CURRENT MOON
moon info
Other My Blog

Coretan

↑ @Gunadarma University

Serpihan-serpihan Catatanku

↑ @Blogsome dot Com

Links
This Day in History

Total Online
UG Radio
Powered by

BLOGGER

© 2005 La Couleur De La Vie Template by Isnaini Dot Com