Paris, ville de rêves et de vendre le rêve (Volume 2)
Sunday, December 21, 2008
Ya ... siapa sih yang ngak kenal kota Paris ?
Selain Paris menjadi ibukota dari Perancis, ternyata Paris mempunyai cerita yang sangat banyak. Salah satu yang menjadi icon dari kota paris adalah Menara Eiffel yang dibangun oleh seorang arsitektur terkenal dari negara tersebut. Dan sampe sekarang Paris menjadi salah satu impian setiap orang untuk melihat dan merasakan pernah mampir di Kota Paris.
Nama Paris diucapkan pengucapan [ˈpaɹɪs] dalam bahasa Inggris dan [paʁi](bantuan·info) dalam bahasa Perancis, berasal dari pendudukan era Romawi, suku Galia dikenal sebagai Parisii. Kota ini dinamai Lutetia (/lutetja/) (lebih panjang, Lutetita Parisiorum, "Lutetia dari Parisii"), selama pendudukan Romawi abad pertama ke abad keenam, tapi, selama pemerintahan Julian sang Pembelot (361-363), kota ini berganti nama menjadi Paris.[13]
Paris memiliki berbagai julukan, tapi yang terkenal adalah "Kota Cahaya" (La Ville-lumière), nama yang mengartikan kota ini sebagai pusat pendidikan dan ide dan adopsi awal penerangan jalan. Paris sejak awal abad ke-20 telah dikenal dalam slang Paris sebagai Paname ([panam]; Moi j'suis d'Paname contoh "Saya dari Paname"),
Penduduk Paris dikenal dalam bahasa Inggris sebagai "Parisians" ([pʰəˈɹɪzɪənz] atau [pʰəˈɹiːʒn̩z]) dan dalam bahasa Perancis sebagai Parisiens ([paʁizjɛ̃](bantuan·info)). Parisian sering menyebut Parigots ([paʁigo](bantuan·info)) untuk merujuk pada penduduk di luar daerah Paris, tapi sebutan ini sering dianggap disayangkan oleh Parisian itu sendiri.
Sebenarnya, perjalanan ke Paris selama 2 malam, 3 hari (18 - 20 Desember 2008) sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama teman-teman yang selama 4 bulan adalah mahasiswa Gunadarma Doktoral Fakultas Ilmu Komputer yang sedang belajar di kota Dijon.
Dan berhubung tanggal 20 Desember 2008 mereka akan balik ke Indonesia, sebelum pulang ke Indonesia bermalam di kota Paris 2 hari sebelum berangkat.
Oh iya, mereka adalah lima sekawan yang mendapatkan kesempatan belajar di University of Bourgogne.
Kelima nama tersebut adalah :
Brahmantyo Heruseto
Ruddy Trisno Y
Ridha Iskandar
Nur Yuliani
Lulu Munggaran
18 Desember 2008 Sesuai janji, berangkat dari appartement jam 10 pagi. Ternyata ada sedikit kejutan buatku dari teman-teman di Pavillon St. Bernard. Makasih teman ... ! Tak lama satu persatu datang ke Appartement untuk mengantar lima sekawan yang akan balik ke Indonesia. Mulai dari Aris Muslim, Dibyo Saptono, Ira Tri Wibowo dan Tri Wahyu N. Sedangkan Elfitrin harus menemui profesornya, dan Dian Kemala P harus mengikuti workshop dan mereka tidak bisa mengantarkan lima sekawan ke Gare SNCF Dijon Ville. Tepat pukul 10.35 menuju halte Bus yang tidak jauh dari Pavillon St. Bernard, kami bersepuluh menuju Gare. Waktu tempuh menuju Gare hanya 20 menit, dan karena waktu masih lama dan pengumuman kereta yang menuju Paris belum ada, kami menunggu sekitar 25 menit. Sesuai jadwal 11.52 kereta yang membawa lima sekawan dan termasuk saya mulai bergerak menuju Paris. Agar tidak ada kejenuhan kami mulai membicarakan rencana tempat yang akan dituju besok harinya. Dan hari pertama tidak ada kegiatan selain istrahat di hotel untuk mempersiapkan tenaga besok harinya. TGV dikenal dengan kereta tercepat, bahkan katanya tercepat di dunia. Hanya dengan waktu 1.30 Jam, tak terasa sudah di pemberhentian terakhir yaitu Gare De Lyon. Karena aku harus kembali ke Dijon hari sabtu, sebelum menuju hotel aku membeli tiket untuk pulang ke Dijon. Suasana di Gare De Lyon ternyata sudah mulai rame oleh para penumpang kereta baik yang datang atau yang akan pergi berlibur di kota atau negara lain menggunakan kereta. Setelah tanya sana-sini, dapatlah tiket metro menuju Zona 5 yang menuju Charles De Gaulle Airport yang tidak jauh dari hotel tempat penginapan kami dan tiba di hotel sekitar jam 5 sore.
19 Desember 2008 Jam 5.00 aku sudah bangun, dan Bang Ridha ternyata ikut bangun juga. Setengah jam kemudian berdua dengan Bang Ridha lebih dahulu sarapan. Sudah jam 7.30 tapi matahari belum juga terlihat. Petualangan di kota Paris dimulai, dari Hotel menuju Stasion Kereta di Terminal 3 CDG, Dari situ kami menuju Musée Gravin. Dari informasi yang kami dapat ada sekitar 300 patung lilin yang menghiasi museum tersebut. Dari tokoh jaman perang dari negara Perancis, ada juga artis dan aktor terkenal dari Holywood, Bolywood, dan tidak lupa dari Perancis. Juga ada olahragawan, penemu dan raja-raja dengan karakter masing-masing orang. Selama 2 jam kami mencari setiap patung lilin untuk diabadikan berpose bersama patung - patung tersebut.
Perjalanan selanjutnya adalah ke daeran Anvers yang terdapat Bagunan Sacre-Coeur, disana terkenalnya dengan pasar murah. Biar tidak penasaran kami mencoba melihat apakah benar barang-barangnya murah ? Ternyata benar para pembeli saling berebut untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Setiap kali kardus di keluarkan, saat itu juga para pembeli berebutan. Kami dari jauh cuman memperhatikan saja, ternyata tidak di Indonesia saja yang suka mencari barang-barang yang super murah.
Setelah membeli souvenir, dan foto dengan backgroud Sacre-Coeur, dan perut sudah mulai meminta untuk diisi. Atas saran penjual toko, Restoran yang Halal banyak didekat Gare du Nord, dengan sedikit bingung kami menjawab makasih infonya. Dan mulai mencari Restoran untuk makan. Setelah keluar dari Gare du Nord, ternyata terlihat GOPAL (toko yang menjual segala bumbu dan bahan makanan instan dari asia termasuk dari Indonesia). Mencoba melihat-lihat dan akhirnya sebagai pengisi perut ada risol. Dan pencarian restoran pun dilanjutkan, dan ternyata tidak jauh dari Pintu Utama Gare du Nord ada restoran Turki dengan khasnya adalah Kebab. Dan sangat berbeda dengan kebab-kebab yang lainnya. Dijamin kenyang deh.
Sebelum gelap, tujuan berikutnya adalah Musée du Luvre yang terkenal juga di Kota Paris. Museum ini mempunyai rancangan yang menyerupai piramid dengan dindingnya adalah Kaca. Karena kami sedang janjian dengan Lani (warga Indonesia) yang sudah lama di Paris. Dia berjanji akan mengantarkan kami ke tempat yang sangat bagus dilihat saat malam hari.
Tempat pertemuan dengan lani adalah Gare Chausssée d'Antin Lafayette. Sebelum menuju dibeberapa tempat kami masuk ke Galeri Lafayette (Toko sekelas Metro). Tak jauh dari situ dengan jalan kami menuju pintu utama Opera Garnier untuk Foto-foto, ternyata banyak wisatawan yang sedang mengambil foto didepan Opera tersebut.
Perjalanan dilanjutkan lagi ke Arc De Triomphe, Disana terkenal dengan Pintu Gerbang yang sangat banyak jalannya. Dan sepanjang Jalan dihiasi lampu yang berwana biru. Satu hal yang berbeda adalah, kita bisa foto ditengah jalan dengan lalu lintas yang sangat kencang. Bahkan polisi membantu para wisatawan yang ingin mengambil gambar dengan latar belakang Porte atau latar belakang jalannya.
Tujuan terakhir adalah Menara Eiffel. Sebelumnya sudah kami lihat di siang hari, tapi saat malam menara Eiffel berubah jadi Biru. Dengan gaya yang berbeda kami mencoba mengambil background Eiffel saat malam hari. Ada yang menarik melihat Eiffel, yaitu setiap setengah jam akan ada lampu yang berkelap kelip dengan berbagai warna.
Ternyata waktu sudah setengah sembilan malam, dan waktunya untuk istrahat dan lima sekawan harus kembali packing barang.
20 Desember 2008 Hari terakhir bagi lima sekawan di Perancis, dan juga di Eropa. Perjalanan ke Bandara jam 9 pagi menuju terminal 1. Disana Lani sudah menunggu kami. Dengan penerbangan Malaysia Airlines mereka kembali ketanah air. Dengan perasaan cemas mereka mengantri ke loket cek - in. Apakah over or tidak, ternyata barang bawaan mereka tidak ada yang dibongkar bahkan selamat dibawa ke Indonesia semuanya. Dari kejauhan Aku dan Lani melihat proses cek-in. Lani bahkan sampai berkata "Kok baik banget ya Madame-nya, sampe ngak marah2 liat begitu banyak barang mereka".
Karena harus mengurusi imigrasi jam 10 mereka segera masuk ruang tunggu .... Kapan balik lagi ke Perancis teman-teman ?
Aku menuju Gare Bercy, sedangkan lani harus melanjutkan aktifitasnya di Paris. Karena kereta yang mengantar aku baru jam 15.20 aku mencoba menyalakan laptop melihat hasil dokumentasi selama di Paris.
Name: Musa Home: Depok, Jawa Barat, Indonesia About Me: Seorang yg sederhana, moderat, individu serta suka dedikasi dan komitmen dalam semua aspek hidup. Dalam pandanganku sendiri sebagai seorang stabil, bertanggung jawab, percaya diri dan orang penuh kasih yang mempunyai niat baik. Kenangan dari segalanya langkahku merupakan pengalaman berharga dimasa mendatang. Petualanganku dimulai dari pulau “Celebes” yang lebih dikenal dengan Sulawesi. Tepatnya di daerah Gorontalo tempat kelahiran dan masa-masa kecilku bermain dan tumbuh.
Minat yang berkisar akademis terutama hardware system, petualangan. Mengunjungi suatu tempat dan hidup bebas dari “penjajahan” kesenangan penuh kasih.
Bagaimanapun, seorang Purnawarman Musa masih merasakan bahwa aku bukanlah seorang yang sempurna.